Menurut Scotch Whisky Association, sekitar 90% Scotch whisky yang terjual di seluruh dunia adalah blended Scotch, bukan single malt.
Blended Scotch dikenal dengan rasa yang konsisten, berkarakter, dan harganya yang terjangkau. Jenis whisky ini juga dapat diterapkan pada cocktail.
Sementara itu, Single Malt terkenal karena masing-masing tempat penyulingannya. Blended Scotch sendiri umumnya terdiri dari 15-40% malt whisky dan 60-85% grain whisky.
Lalu, apa perbedaan whisky single malt dan blended Scotch? Simak penjelasan berikut ini!
BACA JUGA: Cara Memilih Wine: Panduan Memilih Rasa yang Tepat
You may also like
Sunset Grill Menu: 8 Pilihan Hidangan yang Wajib Dicoba
8 Signature Whiskey di Bottom Parlour
Coffee Liqueur: Rahasia di Balik Cocktail Beraroma Kopi
Perbedaan Whisky Single Malt dan Blended Scotch
Berikut ini beberapa perbedaan Single Malt dan Blended Scotch.
1. Komposisi dan Bahan Baku
Secara hukum, Single Malt Scotch hanya boleh dibuat dari tiga bahan, yaitu malt barley (jelai yang telah dimaltkan), air, dan ragi. Tidak diperbolehkan menggunakan jenis biji-bijian lain.
Sebaliknya, Blended Scotch adalah campuran Single Malt whisky dan Single Grain whisky.
Single Grain whisky dibuat dari malt barley yang dipadukan dengan biji-bijian lain, serta tidak melalui proses malting, seperti jagung atau gandum.
Kombinasi inilah yang membuat Blended Scotch memiliki karakter yang ringan dan halus.
2. Definisi
Anda mengira kata single berarti menggunakan satu bahan, satu tong, atau satu batch produksi. Padahal, dalam dunia Scotch whisky, istilah single mengacu pada satu tempat produksi.
Artinya, Single Malt Scotch harus diproduksi di satu tempat penyulingan yang sama.
Sementara itu, Blended Scotch merupakan perpaduan whisky dari berbagai tempat penyulingan yang tersebar di berbagai wilayah Skotlandia.
Dalam satu botol blended Scotch, biasanya terdapat 20-50 komponen whisky yang berbeda.
3. Metode Distilasi
Peralatan distilasi memengaruhi tekstur dan karakter akhir whisky.
Single Malt Scotch wajib disuling menggunakan copper pot still, yaitu alat penyulingan berbentuk menyerupai bawang, yang bekerja secara bertahap di setiap siklus produksi.
Metode ini memang memakan waktu dan tenaga, tetapi mampu mempertahankan minyak alami dari barley. Jadi, rasanya akan kaya dan kompleks.
Di sisi lain, grain whisky untuk Blended Scotch diproduksi menggunakan column still atau continuous still. Alat ini dapat beroperasi terus-menerus dan menghasilkan alkohol dalam jumlah yang besar.
Proses tersebut menghilangkan sebagian minyak berat, lalu menghasilkan alkohol yang bersih dan netral sebagai dasar campuran blended whisky.
4. Filosofi Rasa dan Karakter
Perbedaan berikutnya adalah tujuan pembuatannya.
Single Malt dibuat untuk menonjolkan karakter unik dari sebuah distilasi dan lingkungan tempat whisky tersebut diproduksi. Karakter ini bisa berupa aroma asap gambut khas wilayah Islay, atau sentuhan madu dan bunga yang sering ditemukan pada whisky dari Speyside.
Sementara itu, Blended Scotch menawarkan keseimbangan rasa dan konsistensi. Tujuannya adalah memastikan setiap botol dari merek yang sama memiliki cita rasa yang seragam, baik dibeli di London, New York, maupun Tokyo.
Penggunaan grain whisky juga mampu menciptakan rasa yang lembut dan mudah dinikmati.
5. Peran Master Distiller dan Master Blender
Pada Single Malt, perhatian tertuju pada Master Distiller serta faktor lingkungan di sekitar tempat penyulingan, seperti sumber air, bentuk alat distilasi, dan kondisi iklim setempat.
Sementara pada Blended Scotch, sosok Master Blender berperan penting.
Mereka bertugas mencicipi ratusan tong whisky dari berbagai tempat penyulingan untuk menemukan kombinasi yang paling tepat.
Keahlian mereka dibutuhkan agar cita rasa sebuah merek tetap konsisten dari tahun ke tahun, meskipun karakter setiap tong selalu berbeda.
6. Kategori dan Klasifikasi
Regulasi Scotch Whisky tahun 2009 membagi Scotch whisky ke dalam lima kategori. Tujuannya untuk memudahkan konsumen memahami perbedaannya.
• Single Malt: Diproduksi di satu tempat penyulingan dan menggunakan 100% malt barley.
• Single Grain: Diproduksi di satu tempat penyulingan dengan malt barley dan biji-bijian lainnya.
• Blended Malt: Campuran beberapa Single Malt dari berbagai tempat penyulingan, tanpa tambahan grain whisky.
• Blended Grain: Campuran beberapa Single Grain whisky dari berbagai tempat penyulingan.
• Blended Scotch: Campuran Single Malt dan Single Grain whisky.
7. Pernyataan Usia (Age Statement)
Baik Single Malt maupun Blended Scotch dapat mencantumkan usia pada labelnya, misalnya "12 tahun".
Aturan yang berlaku cukup ketat. Usia yang tercantum harus mengacu pada whisky termuda yang digunakan dalam campuran tersebut.
Pada Single Malt, ini berarti seluruh whisky dalam botol tersebut telah berusia minimal sesuai angka yang tertera, meskipun berasal dari kombinasi tong berusia 12, 15, atau 18 tahun.
Sementara itu, jika sebuah Blended Scotch digabungkan dengan malt whisky berusia 40 tahun dan grain whisky berusia 3 tahun, maka label yang digunakan tetap harus mencantumkan usia 3 tahun.
8. Posisi di Pasar dan Harga
Karena menggunakan malt barley dan proses distilasi yang kompleks, Single Malt umumnya diposisikan sebagai produk premium.
Sebaliknya, Blended Scotch dapat diproduksi dalam skala besar menggunakan grain whisky berbahan gandum atau jagung.
Karena itulah harga Blended Scotch cenderung terjangkau dan mudah ditemukan di pasaran. Faktor ini juga menjadi alasan mengapa sekitar 90% Scotch whisky yang terjual di dunia berasal dari kategori blended.
9. Cara Menikmati dan Penggunaannya
Single Malt dinikmati secara langsung (neat), dengan sedikit air, atau menggunakan 1 bongkah es besar.
Meski bisa digunakan dalam cocktail, rasanya akan tertutupi oleh bahan lain jika tidak dipadukan dengan tepat.
Sebaliknya, Blended Scotch digunakan dalam mixology, karena rasanya lembut dan seimbang.
Karakter tersebut menjadi fondasi untuk berbagai cocktail, seperti Rob Roy, Penicillin, atau Highball.
Bottom Parlour House Blend Whisky
Setelah mengetahui perbedaan Single Malt dan Blended Scotch, cobalah Bottom Parlour House Blend Whisky.
Whisky ini merupakan perpaduan dari tiga jenis whisky berbeda, yaitu Bourbon, Single Malt Scotch, dan Irish Whiskey.
Setelah proses blending selesai, whisky kemudian disimpan selama 40 hari dalam tong oak Amerika di gudang penyimpanan Bottom Parlour.
Jadi, seluruh elemen rasa akan menyatu sempurna, serta menghasilkan whisky yang seimbang, halus, dan berkarakter.
- Aroma (Nose): Aroma yang dihasilkan terasa hangat dan kaya, seperti sentuhan apel, toffee, dan madu. Terdapat pula nuansa marzipan manis dan sedikit aroma marmalade segar.
- Rasa (Palate): Rasanya lembut dan menyegarkan, seperti sentuhan pir, persik, nanas, dan sedikit rasa gula Demerara.
- Akhir Rasa (Finish): Memberikan sensasi akhir yang kaya, halus, menyegarkan, dan mudah dinikmati.
BACA JUGA: 8 Jenis Koktail yang Terkenal di Dunia
Kunjungi Bottom Parlour di Senopati, Jakarta Selatan!
Itulah perbedaan whisky single malt dan blended Scotch yang perlu Anda ketahui.
Sederhananya, Single Malt dibuat dari 100% malt barley dan diproduksi di satu tempat penyulingan, sedangkan Blended Scotch adalah kombinasi berbagai jenis whisky dari beberapa tempat penyulingan.
Untuk mencicipi Single Malt dan Blended Scotch berkualitas, datanglah ke Bottom Parlour.
Bottom Parlour merupakan bar speakeasy premium di kawasan Senopati, serta menjadi destinasi favorit para pecinta whisky. Tempat ini menawarkan lebih dari 500 label whisky dari berbagai negara.
Bar yang menawarkan suasana hangat, pencahayaan temaram, dan interior nyaman. Jadi, ideal untuk bersantai, berbincang, maupun menikmati waktu bersama pasangan.
Bottom Parlour berlokasi di Jalan Suryo No. 32, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12180 dan beroperasi setiap Senin-Sabtu pukul 18.00-02.00 WIB.
Karena kapasitasnya terbatas dan eksklusif, reservasi sangat disarankan sebelum berkunjung.





